Semua orang ingin sukses, banyak buku yang menuliskan tips jitu untuk meraih kesuksesan, banyak orang sukses telah berbagi pengalaman tentang kiat-kiat suksesnya. Sebenarnya apa sih definisi sukses? Suatu pertanyaan yang sulit dijawab bukan karena tidak ada jawabannya tapi karena tidak ada kata-kata baku yang mendeskripsikannya dan definisi tersebut diakui dan diamini oleh setiap orang. Kalau begitu sebenarnya kesuksesan itu bisa jadi abstrak karena deskripsi sukses setiap orang yang bermacam-macam dan relatif maksudnya ukuran sukses bagi setiap orang berbeda-beda. Bila ada yang mengklaim bahwa kesuksesan dinilai dari besarnya materi yang dipunyai maka Anda telah mengesampingkan peran Tuhan, bukankah ketika kita lahir di dunia ini telah ditentukan kepastian atas diri ini 3 hal yaitu rizki, jodoh dan mati ditangan Allah. Setiap individu telah ditentukan takarannya masing-masing yang mana tidak bisa kita iri atas yang orang lain punya, karena sedikit atau banyak adalah anugerah.
Adakah diantara kita yang mengklaim dirinya telah sukses? Sepertinya belum layak kalau kita sekarang ini dengan kondisi bagaimanapun yang kita jalani sekarang ini, apapun yang kita miliki saat ini. Karena penghargaan atas kesuksesan itu sepantasnya diberikan kepada Orang tua kita, karena merekalah yang bisa menjadikan kita seperti sekarang ini. Ingat baik-baik bagaimana mereka mendidik dan mengarahkan kita kepada nilai-nilai kebaikan, bagaimana mereka yang telah menjaga dengan sekuat tenaga dan iman supaya makanan yang masuk keperut kita bukanlah didapatkan dengan cara yang curang / bathil (baca: haram) supaya kita tumbuh kejalan yang baik pula, bagaimana setiap saat dan setiap waktu mereka berharap (berdoa dalam hati) akan kebaikan kita di masa mendatang, bagaimana pula di malam yang dingin dan sunyi ketika semuanya terlelap dalam tidur mereka masih saja meyempatkan diri bangun untuk sholat tahajud dan berdoa dengan kesungguhan maksud, keikhlasan hati dan sepenuhnya ketulusan cinta hingga menitikkan air mata demi kebaikan dan kesuksesan kita. Itu yang mereka lakukan tiap hari selama bertahun-tahun hingga saat ini bahkan sampai kapanpun sepanjang hidupnya. Renungkan dan pahami… Putar film dalam bank memori ingatan kita, Kenanglah baik-baik, ingat-ingat benar kejadian-kejadian yang mengesankan dan membahagiakan bersama kedua orang tua kita. Bila anda sedang bersamanya sungkemlah, katakan anda mencintainya dan ucapkan terimakasih atas semuanya, dan bila kata itu tak terucap, merekapun pasti akan mengerti karena hatinya telah terlatih selama bertahun-tahun berbicara dengan hati anak-anaknya dengan bahasa kalbunya tanpa kita sadari. Bila anda sedang berada jauh dari mereka maka berterimakasihlah dengan cara mendoakannya. Bagi anda yang orang tuanya masih hidup berarti kesempatan anda untuk membahagiakan mereka. So… jangan pernah menyesali pilihan hidup bagi anda yang memilih “hanya” menjadi ibu rumah tangga setelah sekian panjang dan lamanya mengeluti dunia pendidikan yang telah anda jalani, dan bukan malah mementingkan ego dengan dalih ingin mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari bertahun-tahun pada pekerjaan-pekerjaan yang sejalan dengan disiplin ilmu tersebut. Karena pendidikan formal ketika sma atau kuliah S1, S2 dst pada prinsipnya adalah membentuk pola pikir kita bagaimana kita me-manage setiap permasalahan untuk bertindak secara arif dengan wawasan yang memadai. Berapa persen keilmuan yang kita pelajari diterapkan dalam dunia kerja? Tidak sampai 25%, bahkan ada yang mengatakan 10% selebihnya adalah kebiasaan (yang didapatkan dari training dan diulang-ulang setiap harinya). Bukankah di dunia kerja justru seringkali menggunakan logika-logika dasar (+), (-), (X), (:) seperti yang ada di kalkulator tukang sayur dan jarang sekali bahkan mungkin tidak pernah kita menghitung dengan rumus integral karena rumusnya aja sudah lupa, atau dengan kata lain EQ lebih banyak berperan daripada IQ. Maaf bukan bermaksud mengesampingkan dunia pendidikan. Penghargaan setingginya kepada para ibu rumah tangga, sebuah profesi yang tidak gampang dan tidak semua orang bisa melaluinya dengan baik. Butuh kesadaran dan keikhlasan untuk memilih menjadi seorang ibu rumah tangga dan bukan sekedar karena tiadanya pilihan atau keharusan tradisi semata. Berat karena tidak memiliki jam kerja yang pasti, sehingga hampir tidak ada waktu istirahat alias 24 jam nonstop tentu butuh kesiapan mental, kedewasaan pikir, mengesampingkan ego, ketabahan dan kesabaran ekstra dan tentu butuh fisik yang prima. Sungguh sebuah profesi yang mulia, Berbanggalah karena anda telah merintis jalan kesuksesan yang sesugguhnya dengan menjadikan anak-anak anda orang yang sukses. Salut juga bila ada diantara kita yang memiliki potensi kecerdasan IQ tinggi, kemampuan kerja yang diakui perusahaan2 mapan akan tetapi lebih memilih untuk merawat sekaligus menemani masa senja kedua orang tua kita yang semakin tua dan sakit-sakitan, bisa jadi itu nilainya jauh lebih mulia karena tidak semua orang bisa berjiwa besar dengan mengesampingkan ego-nya. Sukses…..
|