|
Beda-beda tradisi menentukan aturan penyusunan posisi tempat duduk tiap-tiap kelas. Umumnya deretan depan dihuni perempuan dan deretan belakang dihuni laki-laki, Ada yang selang-seling antara bangku perempuan dengan bangku laki-laki, ada yang tiap minggu deretan bangkunya bergeser, ada pula yang tidak memiliki aturan posisi yang tetap sehingga susunan tempat duduk tiap hari bisa berganti-ganti (rebutan). Biasanya posisi yang ideal adalah bangku tengah, kalo bangku yang paling depan tidak bisa berkutik apalagi yang persis di depan meja guru maka harus konsentrasi penuh, sedangkan bangku paling belakang yang biasanya ramai akan jadi sasaran ditunjuk oleh guru apalagi yang pojok. Kalo di kelas 3 Fis 1, siapa yang datang paling akhir atau telat maka dia akan menempati bangku terdepan yaitu tepat di depan meja guru. Biasanya yang langganan telat datangnya adalah Tatik Purwokanti yang memang rumahnya jauh daerah Tambakrejo dan jatah tempat duduk disampingnya adalah soim karena dia dulu sering kali mbangkong dan sering kali pula hanya raup trus budhal. Tapi yo pantes ae nek Soim jadi ketua kelas, lha lungguh-e ae paling ngarep, kalo pemimpin berada di garis depan maka mudah untuk menyiapkan anak buahnya. Hehe… Beda lagi dengan tradisi di kelas 3 Bio 1, siapa yang datangnya terlambat maka akan menempati bangku paling belakang pojok dekat pintu pembatas dengan kelas dibelakangnya. Karena deretan belakang biasanya ramai maka penerimaan pelajaran yang diterangkan oleh guru kurang maksimal sehingga seringkali kalau guru menunjuk murid yang duduk di pojok untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas dan biasanya kalau tidak bisa maka akan dimarahi karena selalu dituduh ramai ae. Kondisi inilah yang membuat kompetisi rebutan bangku dimulai. Karena sering datang terlambat maka Totok ‘Pak Te’ Widayanto lah yang sering menghuni bangku pojok belakang tsb. Bagaimana tidak telat meski diampiri Setyo pagi-pagi tapi kemudian nggumpul dulu di rumah Alex sambil menunggu Sony atau Dodo datang dan setelah lengkap baru kemudian berangkat sama-sama sehingga sampai di sekolahan bel tanda masuk pas berbunyi. Karena beda tradisi bagi teman2 yang lain mungkin tidak masalah datang terlambat tapi bagi Totok ini mengerikan tapi mau bagaimana lagi karena kebersamaan harus diutamakan. Akhirnya Totok pun tidak betah menghuni bangku pesakitan tsb maka dengan berseragam lengkap berangkat pagilah dia, dan sampai sekolah sekitar pukul 06.00 padahal belum ada satupun siswa yang datang, hanya petugas kebersihan saja yang terlihat sibuk membuka pintu kelas dan bersih2 halaman. Betapa terkejutnya dia ketika masuk kelas dan bertemu dengan Didit yang masih berpakaian biasa dan Totok pun bertanya dengan nada setengah heran, “Nyapo kowe neng kene?” Didit menjawab dengan santai, “Yo cuman naruh tas ae, trus mulih maneh! lha wong iki mau sambil ngantar ibuku ke pasar.” “Oalaah….. ternyata selama ini aku selalu kalah cepat karena cah2 main curang” ,pikir totok sambil merenung ternyata memang posisi menentukan prestasi eh keselamatan makanya segala cara ditempuh meski harus bangun pagi dan rela datang pagi-pagi kesekolah hanya untuk inden bangku supaya selamat. Ada ada aja…..
|