|
Ditulis Oleh kimung
|
|
Saturday, 13 December 2008 |
|
Perjuangan memang butuh pengorbanan seperti pahlawan yang rela berkorban demi mempertahankan kemerdekaan RI. Jika ada kebebasan maka akan ada pula yang dikorbankan akan tetapi pengorbanan itulah yang akan selalu dikenang. Itulah mengapa setiap tanggal 10 Nopember yang dikenal sebagai hari pahlawan pada hari itu setiap institusi wajib memperingatinya dengan upacara bendera, tak terkecuali SMASA Blitar. Tidak seperti upacara peringatan hari pahlawan tahun sebelum-sebelumnya, tanggal 10 Nopember 1992 menjadi saat yang dikenang karena ada yang ‘dikorbankan’ yaitu Korban perasaan: rasa sakit, rasa muangkel dan tentunya rasa malu Cerita diawali dari Upacara bendera di halaman depan SMASA Blitar Kelas 3 fisika dan 3 biologi berada di sebelah barat lapangan, barisan depan adalah cewek-cewek sedangkan cowok-cowok ada dibelakangnya. Karena barisan yang belakang tidak kelihatan maka biasanya cowok-cowok yang dibelakang tidak memperhatikan karena semuanya sibuk ngobrol sendiri-sendiri sehingga terdengar suara gaduh di belakang. Hal ini mengundang guru pengawas untuk datang guna ‘membereskan’ keadaan. Melihat pak Hadi yang dikenal agak sangar berjalan menghampiri barisan belakang yang gaduh, semua murid di barisan belakang langsung diam seolah-olah tertib. Entah mengapa Dadik malah menunjuk kebarisan yang gaduh sambil berkata, “itu lho…Pak! Itu lho.. Pak! yang ramai” padahal dia sendiri tadinya juga ramai. Sambil bercanda berucaplah, "Hadi mana Hadi? ini anak2 duduk-duduk dan ramai kok malah dibiarkan saja, nggko Hadi tak sikat dw malahan. ternyata tanpa sepengetahuan dadik Pak Hadi sudah berada di bawah pohon dekat dengan barisan dan Akhirnya Pak Hadi pun menghampirinya dengan menghujamkan pukulan jab kanan, jab kiri, straight, dilanjut hook kanan masih kurang puas ditambah lagi uppercut, sehingga dadik pun sampai tertengadah dagunya keatas dan memerah karena menerima beberapa kali pukulan telak tanpa bisa melawan sedikitpun. tentang brapa kali jumlah pukulannya aku lali tapi yang jelas suaranya terdengar keras dari barisan anak Fisika. praaak…! prook..! Spagg..! Bugg!! Setelah kejadian itu semua berdiri tegak posisi siap dan tak ada yang berbicara sedikitpun sehingga suasana hening dan mengharukan. Baru setelah pak Hadi berlalu maka terdengarlah cekikikan dari barisan, biasa… seneng nek koncone soro tapi kasihan juga ya… Saatnya Upacara buyar dan murid-murid menuju kelas masing-masing, begitu dadik masuk kelas (dadik yang masuk kelasnya belakangan) maka teman-teman menyambutnya dengan menyanyikan lagu Gugur Bunga. Mungkin sumpah serapah pun terucap di dalam hati, mungkin juga penyesalan kenapa kok dia yang jadi korban sedangkan yang lain juga sama-sama ramai, tapi yang jelas perasaan dia saat itu amat sangat malu buanget
|