|
Ditulis Oleh Shoim
|
|
Thursday, 13 November 2008 |
 Dari bangunan rumah sederhana itulah Pak Yan sekeluarga memeras keringat, meneteskan asa bagi setiap jiwa siswa-siwi SMA Negeri 1 Blitar. Mungkin tidak pernah atau minimal belum bahwa mereka para siswa menyadari akan peran Pak Yan sekeluarga dalam memompa semangat belajar di SMASA.
Sebelum matahari terbit, Bu Yan di bawah komando sang Jendral yang terhormat Pak Yan, mestinya pontang-panting dalam segenap pengabdiannya untuk terus menekan kejenuhan melayani generasi sego petjel menyiapkan sarapan berupa nasi pecel sebagai perbekalan siswa dalam perjuangan menaklukkan bermacam-macam mata pelajaran di kerasnya medan pertempuran yakni ruang kelasnya. Tidak hanya 1 hari atau 1 bulan bahkan 1 tahun, namun lebih dari hitungan windu beliau mengabdikan diri dari sisi yang tidak semua orang mampu melakukannya. Rumah yang sekaligus sebagai tempat merajut amunisi (sambel pecel) yang kemudian akan dibeber di kantin samping Koperasi Sekolah itu terletak di selatan Laboratorium Kimia, mepet karo tembok pembatas antara SMASA dengan SD Sananwetan. Terbayang kerumunnya siswa-siswi smasa dalam berebut amunisi pada tahun 1990-1993 dengan bandrol Rp. 150,- Menilik kesahajaan wujud bangunan rumah Pak Yan, seakan mengatakan "Dari gubuk yang sederhana inilah kuciptakan generasi yang mampu membangun beribu-ribu istana di luar sana".
|