|
Ditulis Oleh Shoim
|
|
Friday, 04 July 2008 |
 Sembari duduk di atas lincak (dipan) reyot disamping rumah, aku mulai menyeduh secangkir kopi pahit kesukaanku. Kuselonjorkan kaki guna meluruskan tulang belulang yang terasa pegal sehabis melakukan aktifitas seperti biasanya, merumput di sawah buat makan sapi perahku yang mulai nakal dan pelit memberikan susunya. Kopi masih panas, kubiarkan terbuka agar ditiup angin sampai panasnya pas buat lidah. Seekor lalat mendekat mencoba mandahuluiku atas isi dalam cangkirku, namun dalam jarak kurang lebih 10 cm dari bibir cangkir dia sudah balik kanan dan langsung melesat pergi enyah dari pandangan mataku hihihi... Dari dalam rumah, sayup-sayup terdengar suara Radio Mayangkara FM. Suaranya sudah tidak jernih, bukan karena pemancarnya tapi memang pesawat radioku yang sudah legrek. Konon kabarnya Pemancar Radio tersebut milik keluarga salah seorang teman SMA-ku dulu. Dengan program siaran andalannya 'Lang-lang Kota' radio itu makin tersohor seantero kota Blitar dimana aku tinggal. Sesekali diselingi siaran berita nasional bahkan internasional yang diadopsi dari berita-berita di internet. Cukup membukakan mata dan telinga bagi mereka yang interest pada informasi jagad aboh.
Zssrruuuutttt.... kuseruput kopi pahit nan kental dalam cangkirku, wuih... mak byar!!! Padang dalane hehehhehe... Seiring kafein dari cangkir yang mulai merasuk di tubuh lelahku, sempat terlintas sekelebat bayangan masa lalu ketika masih berbaju abu-abu nan lugu wal belagu. Itu semua barawal ketika otak mencerna si mpu-nya Mayangkara FM yang kemudian merembet ke teman abu-abu lainnya. Samar-samar terlihat dalam bingkai bayangan itu, adegan-adegan Nasionalis, herois, humoris, melankolis sampai yang konyolis dan edanis hihihihi... Adakah kenangan yang sama meski dalam waktu dan sarana pengingat yang berbeda atas masa-masa dimana umat 'songotelu' menumpahkan segala rasa bebas berekspresi tanpa himpitan berbagai 'keharusan' seperti masa sekarang? Mudah-mudahan masih ada! Tinggal kenangan itu yang menjadi modal harapan akan kelanjutan tali paseduluran songotelu. Kenangan yang menyiratkan betapa kita adalah saudara. Kenangan yang mengabarkan bahwa kita merupakan keluarga. Meski pada realitanya masing-masing pribadi harus berjalan pada bentangan garis hidup yang telah dianugerahkan-Nya. Sebagaimana lima jari pada salah satu tangan kita, masing-masing memang harus berbeda, ada yang jadi kelingking, telunjuk, ibu jari dan lainnya, namun semua harus menjadi satu kesatuan agar tangan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kuseruput lagi kopiku...! Walah... sudah habis! Tunggu saat aku ngopi lagi yah. Kita akan bertemu lagi hehehhehe...
Salam
|