|
||
Depan
Cerita Dari Rantau
Coretan 93
Sisa-sisa yang TERSISA | Sisa-sisa yang TERSISA |
|
|
|
| Ditulis Oleh coim | |||||
| Tuesday, 13 July 2010 | |||||
Sore di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, lalu lalang pengunjung dari berbagai pelosok negeri Indonesia masih nampak rame. Sesekali terdengar megaphone memberikan instruksi pada anggota rombongan untuk segera berkumpul karena hendak pulang atau berpindah lokasi wisata. " Oleh-oleh dari Jogja Mas..." Mbok-mbok tukang jual aksesoris mulai merajuk mengharap terjadi transaksi demi sesuap nasi. Sementara itu, ditrotoar yang mana banyak penjaja aksesoris serta gerobak-gerobak makanan dan minuman ringan ada seorang eyang kakung duduk disebelah sepeda onthel wal jadul. Dibagian belakang sepedanya terdapat obrok ukuran sedang yang kosong. Tubuhnya kecil cenderung kering dimakan usia."Kerso sez gadehan kulo mbah..?" saya sodorkan sebungkus rokok produksi dari Kediri. "Mboten Mas... maturnuwun. Niki sampun wonten" tolak Eyang Kakung sambil menunjukkan tembakau dalam bungkus kresek warna putih. Kemudian beliaunya mulai melinting sendiri tembakau itu dengan selembar kelobot, beberapa menit kemudian rokok sudah jadi. "Sadean nopo to mbah..?" Selidik saya heran karena obrok disepedanya terlihat kosong. "Mboten sadean kok Mas... Kulo namung luru-luru. Lha Sampean saking pundi?" "Saking Mblitar Mbah..., luru nopo to mbah?" "Alahh..niku lho.. luru resek saking tiyang-tiyang ingkang sadean (warung)" jawab Eyang Kakung sambil mulai menghisap rokok kelobotnya. Saya kira Eyang ini pengumpul plastik atau kertas sampah dari warung atau yang tercecer disepanjang trotoar. Sesaat kemudian, ada pemilik warung nasi campur mendatangi obrok Eyang lalu memasukkan bungkusan kresek warna hitam kedalamnya. "Niku wau nopo mbah?" tanya saya penasaran. " Nggih niku, sisa (kokohan) saking warung piyambak'e Mas..." "Lajeng damel nopo Mbah..?" "Mangke kulo sade malih damel pakan lele kalih ayam." Obrolan berlanjut pada masa-masa muda Eyang ini yang bernama asli Warso. Mbah Warso tinggal di pelosok desa (saya lupa namanya) dengan jarak kurang lebih 7 Km dari Keraton Jogja. Beliau tidak berputra dan sekarang tinggal bersama istrinya. Hari-hari senja mereka lalui bersama dengan mengandalkan hasil jerih payah dari mengumpulkan sisa-sisa makanan dari warung dilingkungan Keraton Jogjakarta. Rata-rata hasil penjualan sisa-sisa makanan itu kata Mbah Warso sekitar 5 ribu sampe 8 ribu. Dan itu dilakukan sehari hanya sekali berhubung tenaga juga demikian menipis. "Kulo rumiyin jaman walondo nate mlampah ngantos daerah Wlingi (blitar) Mas...", Mbah Warso memulai ceritanya. Beliau lahir pada tahun 1917. Adapun masih bugar diusia senjanya sekarang, mbah Warso tidak banyak tahu, hanya saja beliau sejak dulu menghindari makan makanan yang bahannya ada nyawanya (daging). Sebagaimana mbah-mbah pada masanya, gulung koming nibo tangi merebut kemerdekaan merupakan makanan sehari-hari tentunya. Dalam perjuangan untuk ikut menghantarkan Bangsa Indonesia ke depan pintu kemerdekaan, Mbah Warso sedikit pun tidak pernah memikirkan apa dan bagaimana kehidupannya kelak (masa sekarang). Bisa jadi beliau adalah salah satu dari ribuan pejuang yang gugur dimedan laga kala itu. Sehingga sedetik pun tiada sempat untuk memikirkan masa depan pribadinya kecuali kemerdekaan untuk anak cucu yang bukan lain adalah generasi Bangsa Indonesia sekarang ini dan seterusnya. Dikala jaman benar-benar menjadi 'rejo' seperti masa sekarang ini, mbah Warso dengan selimut senja keemasan masih harus nibo tangi mancal sepedha onthel untuk sesuap nasi agar nyawa tetap kerasan ditubuh ringkihnya. Mungkin masih ada ratusan atau bahkan ribuan Mbah Warso-mbah warso lainnya di negeri ini yang dulu sibuk memperjuangkan nasib hidup dan kedamaian di kehidupan anak serta cucunya kelak. Dan sekarang anak-anak dan cucu-cucu itu ternyata juga sibuk berat menumpuk-numpuk harta agar ada sisa untuk orang-orang seperti Mbah Warso. Maaf mbah... hanya SISA yang mampu kami berikan untuk orang-orang TERSISA seperti Mbah... Kami takut melarat, kami khawatir miskin, kami cemas bila sampe kere, kami tidak ada waktu lagi untuk melihat, merasakan, memikirkan, sampai mengupayakan sebuah ketentraman hidup seperti yang kami impikan buat sampeyan karena waktu bagi kami adalah uang. Jangan mati dulu sebelum kami kaya atau setidaknya menyaksikan kami bergelimang harta benda dari negeri yang telah engkau bidani saat kelahirannya. "Nopo mboten angsal yotro pensiunan saking pemerintah sak niki, amergi sampeyan sampun tumut perang naliko semanten mbah?" tanya saya sedikit mengorek kondisi sandang pangannya. "Oalahh Mas... kulo rumiyin tumut perang mboten kepikiran mrih angsal bondo dunyo. Wong saget mirsani tiyang-tiyang sakniki uwal saking walondo mawon pun remen. Dene kulo kedah krengkangan pados sego sak pulukan njih amergi kulo niki hamung tiyang bodo Mas, mboten saget nopo-nopo. Tapi saestu kulo pun syukur sanget taksih diparingi wilujeng ngantos sepriki" tutur Mbah Warso sambil terus menghisap rokok klobotnya. Semoga Generasi Sego Petjel van Mblitar termasuk golongan orang-orang yang mampu dan pandai bersyukur....
Maaf... hanya anggota yang bisa memberi komentar!
Powered by !JoomlaComment 3.25
3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||
| < Prev | Next > |
|---|
|
| Obrolan Songo Telu |
|---|
|
Latest Message: 1 year ago
|
| Tempat Login |
|---|
| Menune 93 | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| Belum ada yg Online |
| Total Pengunjung |
|---|
|
|
Soegeng Rawoeh wonten ing wisma aloemni SMAN 1 Blitar tahoen 1993. Minangka damel ngeraketaken saha nambahi raos sih katresnan toemprap sesami aloemni'93, pramilo kanthi nyoewoen pangestoenipoen, moegi-moegi songotelu.com saget maringi manfaat ing dalem njengkoejoeng saha ngoeri-ngoeri pasedoeloeran aloemni'93 meniko, noewoen !


Sore di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, lalu lalang pengunjung dari berbagai pelosok negeri Indonesia masih nampak rame. Sesekali terdengar megaphone memberikan instruksi pada anggota rombongan untuk segera berkumpul karena hendak pulang atau berpindah lokasi wisata. " Oleh-oleh dari Jogja Mas..." Mbok-mbok tukang jual aksesoris mulai merajuk mengharap terjadi transaksi demi sesuap nasi. Sementara itu, ditrotoar yang mana banyak penjaja aksesoris serta gerobak-gerobak makanan dan minuman ringan ada seorang eyang kakung duduk disebelah sepeda onthel wal jadul. Dibagian belakang sepedanya terdapat obrok ukuran sedang yang kosong. Tubuhnya kecil cenderung kering dimakan usia.