 Masih sehubungan dengan pertemuan keluarga 93 di Blitar, mungkin karena tidak terima dengan gegap gempita di rumah Yuyun, dulur kita sing nggadhur dewe injih meniko Begawan Baskoro Hanoto Kunjoro bikin ontran-ontran dengan para cantriknya, Almus dan Romi CeTe, mereka menggelar gelanggang ngakak di padepokan Jl. Ir Soekarno. Maklumlah, ketika hari pencanangan kedaulatan kawulo telih 93 di rumah Yuyun, mereka tidak bisa hadir karena satu dan lain hal. Setelah segala uborampene berupa menyan berikut arang bathoknya yang sudah dibakar, Baskoro mengundang laskar Sego petjel van mblitar. Dalam hitungan detik, pasukan segelar sepapan dengan senopati perang Ki Ageng Yani Bowo Suloyo cancut tali wondo age-age merapatkan barisan, dengan senjata bambu tumpul dan keris tanpa warangka laskar sego petjel van mblitar dengan aba-aba sang senopati bergerak menuju padepokan milik begawan Baskoro.
 Apa yang dilakukan Begawan Baskoro beserta para cantriknya membuahkan hasil. Laskar yang dipimpin Senopati Ki Ageng Yani Bowo Suloyo diantaranya adalah Hermawan yang Gendut, Oentoeng yang konyol, Novan yang anteng, Yoyok yang analogis, Kimung yang naturalis, dan spenulis yang usil, tidak bisa berbuat banyak selain pating dlosor ngakak gak karu-karuan.
Perpaduan gerombolan Baskoro dan Yani melahirkan team koor yang meski bernada parau namun itu menjadikan semua semakin asyik bin syahdu karena justru dengan intro serta intonasi yang tidak beraturan kemudian dipoles arransemen begawan Baskoro terdengarlah melodi-melodi jadul ala 93'an.
Malam itu, sebenarnya seperti malam-malam yang memang sering dilakukan dulur-dulur 93 yang berdomisili di tlatah mBlitar. Siapa saja yang berinisiatif menyelenggarakan cangkruk'an maka tinggal melakukan kontak telepati rogoh sak-clono dengan sang senopati, seketika pasukan yang kebetulan tidak berhalangan segera hadir ke tempat yang telah ditentukan. Hanya saja malam itu kebetulan cangkrukan pertama pasca pertemuan di rumah Yuyun, obrolan tidak jauh-jauh dari peristiwa hangat di rumah Yuyun.Entah bagaimana si Gendut harus berulang-ulang klarifikasi tentang keberadaannya yang misterius, yah sehubungan dengan bukti nyata ketika dia tidak nampak pada pertemuan di rumah yuyun namun terlihat secara kasat mata di rumah Redy. Padahal rentang waktu antara acara di rumah Yuyun dengan acara di rumah Redi hanya beberapa menit saja. Dengan lincah Gendut mencoba berkelit ke kiri dan ke kanan, wal hasil tetap saja dari team koor terdengar " Hahahaha..." Kemudian "hehehehe... " Lalu "hihihihi..." selanjutnya " hohohoho..." yang terakhir " huuuuuuuuu..."
Hermawan yang gendoet memang satu-satunya pasukan yang memiliki perawakan gagah perkasa, dibalik keangkeran wajahnya yang seolah-olah akan melumat siapa saja yang berani menatap wajahnya, namun hatinya lembut bak bulu-bulu kelinci. Sehingga apabila disetiap ajang pertemuan keluarga 93 di Blitar ada Hermawan, tiada lagi yang patut untuk merasa khawatir. Siapapun akan merasa bebas untuk tertawa, bahkan menangis tanda syukur atas kebersamaan yang tercipta. Manunggaling jiwa mawa raga nyawijekne sih katresnan tumprap sanak kadang songo telu ing dalem nguri-nguri paseduluran kanthi ngajeng-ngajeng rahayu wilujeng saha ditebihaken saking sambi kala dening ingkang maha kuaos inggih meniko gusti ingkang akarya jagad. Amin yo...?
|